Geologi Batubara di Sumsel

Geologi regional daerah penyelidikan dipengaruhi oleh sistem penunjaman lempeng yang berada disebelah barat Pulau Sumatera, yaitu antara lempeng Eurasia yang relatif diam dengan lempeng India-Australia yang bergerak kearah Utara hingga Timur Laut.

Secara langsung maupun tidak langsung efek penunjaman lempeng tersebut mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik dan struktur geologi di daerah penyelidikan dan sekitarnya yang berada di Cekungan Sumatera Selatan. (Gambar 1).

Berdasarkan konsep Tektonik Lempeng, kedudukan cekungan batubara tersier di Indonesia bagian barat berkaitan dengan sistem busur kepulauan. Dalam sistem ini dikenal adanya cekungan busur belakang, cekungan busur depan dan cekungan intermontana atau cekungan antar busur.

Masing-masing cekungan ini memiliki karakteristik endapan batubara yang berbeda satu sama lainnya. Dilain pihak menurut Koesoemadinata dkk. (1978), semua cekungan batubara tersier di Indonesia (termasuk cekungan Sumatera Selatan) digolongkan jenis cekungan paparan (shelfal basin) karena berhubungan dengan kerak benua pada semua sisinya, kecuali Cekungan Kutai, Cekungan Tarakan di Kalimantan Timur yang digolongkan Contonental Margin.

Menurut De Coster (1974), Cekungan Sumatera Selatan telah mengalami tiga kali orogenesa, yakni : Pada zaman Mesozoikum Tengah, Kapur Akhir-Tersier Awal dan Plio-Plistosen.

Setelah orogenasa terakhir (Plio Plistosen) dihasilkan kondisi struktur geologi regional seperti terlihat pada saat ini. Zone Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara Lempeng Sumatera Hindia dan Pulau Sumatera, akibat tumbukan ini menimbulkan gerakan rotasi (right lateral) diantara keduanya. Perlipatan dengan arah utama Barat Laut-Tenggara, sebagai hasil efek gaya kopel Sesar Semangko. Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar Pra Tesier yang mengalami peremajaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.

Penunjaman Lempeng Sebelah Barat Sumatera

Yang Mempengaruhi Keadaan Geolgi Daerah Penyelidikan

 

Stratigrafi

Statigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan menurut para ahli terdahulu dibagi atas beberapa formasi dan satuan batuan tua sampai muda, yaitu :

  • · Batuan Pra-Tersier : terdiri dari andesit, filit, kuarsit, batu gamping, granit, dan grano diorit.
  • · Formasi Lahat : diendapkan secara tidak selaras di atas batuan Pra-Tersier pada kala Paleosen-Oligosen Awal di lingkungan darat. Formasi ini tersusun daru tufa, aglomerat, breksi tufaan, andesit, serpih, batu lanau, batu pasir, dan batubara.
  • · Formasi Talang Akar : terdiri dari batu pasir berbutir kasar-sangat kasar, batu lanau dan batubara. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Lahat pada kala Oligosen Akhir-Miosen Awal di lingkungan Fluviatil sampai Laut Dangkal.
  • · Formasi Baturaja : terdiri dari batu gamping terumbu, serpih gampingan dan napal. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Talang Akar pada Miosen Awal di lingkungan Litoral sampai Neritik.
  • · Formasi Gumai : terdiri dari serpih gampingan dan serpih lempungan, Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Baturaja pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah di lingkungan laut dalam.
  • · Formasi Air Benakat : terdiri dari batu pasir, diendapakan secara selaras di atas Formasi Gumai pada kala Miosen Tengah-Miosen Akhir, di lingkungan Neritik sampai Laut Dangkal.
  • · Formasi Muara Enim ; terdiri dari batu pasir, batu lanau, batu lempung dan batubara. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Air Benakat pada kala Miosen di lingkungan Paludal, Delta, dan bukan laut.
  • · Formasi Kasai : terdiri dari batu pasir tufaan dan tufa, terletak selaras di atas Formasi Muara Enim, diendapkan di lingkungan darat pada kala Pliosen Akhir-Pliosen Awal.
  • · Endapan Kuarter : terdiri dari hasil rombakan batuan yang lebih tua, berukuran berakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung, diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Kasai.

Berdasarkan hasil penelitian De Coster (1974) mengenai siklus pengendapan di Cekungan Sumatera selatan, disimpulkan bahwa satuan dan endapan batubara yang termasuk kedalam Formasi Muara Enim memiliki siklus pengendapan regresi.

 

Tabel 3. Satuan Regional Cekungan Sumatera Selatan,

Menurut Beberapa Peneliti (Pulunggono, 1986)

Geomorfologi

Secara umum, daerah penyelidikan dan sekitarnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu :

  • · Satuan morfologi Perbukitan Antiklin
  • · Satuan morfolgi Lembah Sinklin
  • · Satuan morfolgi Dataran Aluvial

Relief dari ketiga satuan diatas secara jelas tampak berbeda, baik diamati dilapangan maupun dipeta topografi yaitu dari pola kontur, bentuk bukit, bentuk lembah, bentuk sungai dan pola aliran sungai.

GEOLOGI BATUBARA DAERAH PENYELEDIKAN

Secara umum Cekungan Sumatera Selatan menghasilkan endapan batubara dengan penyebaran yang cukup luas namun memiliki peringkat kalori yang tidak terlalu tinggi. Endapan batubara yang terdapat pada Formasi Muara Enim dibeberapa lapangan batubara dijumpai 10 (sepuluh) lapisan batubara utama, yaitu :

  • · Lapisan Batubara Manggus : sebanyak 2 lapisan (A dan B)
  • · Lapisan Batubara Suban : sebanyak 2 lapisan (B1 dan B2)
  • · Lapisan Batubara Petai : sebanyak 3 lapisan (C1, C2 dan C3)
  • · Lapisan Batubara Merapi : sebanyak 1 lapisan (D)
  • · Lapisan Batubara Keladi : sebanyak 2 lapisan (E1 dan E2)

Selain itu di bagian atas Lapisan Batubara Manggus (A1) ditemukan 1 hingga 2 lapisan batubara yang tidak terlalu tebal (0,35 – 0,80 m) dan dianggap sebagai lapisan batubara gantung yang tidak menerus dan memiliki sifak fisik dengan peringkat lebih rendah dari batubara dibawahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s