PT Pelindo II akan Tingkatkan Pengangkutan Batubara di Sumsel

07.10.2010 17:01:51 WIB

SUMATRA Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan batubara. Diperkirakan ada sekitar 22 miliar ton batubara atau sekitar 48 persen cadangan nasional, yang belum dieksploitasi . Namun, sampai saat ini ada kendala transportasi dalam mengeksploitasi batubara tersebut. Angkutan melalui keretaapi, truk, dan tongkang, belum sesuai dengan target produksi.

Oleh karena itu, PT Pelindo II, berencana meningkatkan pengiriman batubara dari Sumatra Selatan dengan cara melakukan optimalisasi pengiriman batubara keluar melalui investasi di bidang pengangkutan air atau melalui sungai Musi.

Ada beberapa hal yang akan dilakukan. Pertama membangun loading point di tepi sungai Musi dengan jarak terdekat sentra produksi batubara yakni di kabupaten Muaraenim. Kedua menyediakan sejumlah tongkang dengan ukuran kecil atau tongkang bermesin, yang mana selain memiliki kecepatan yang lebih baik, juga aman terhadap lingkungan terutama melalui jembatan Ampera, yang jarak antartiangnya hanya berkisar 40 meter.

Ketiga, membangun pelabuhan teruntuk kapal-kapal besar di muara sungai Musi atau di daerah kabupaten Banyuasin.

Angkutan melalui kapal tongkang, kata Dani, jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan kereta api atau truk. Misalnya sebuah tongkang yang mampu membawa sekitar 9.000 ton batubara itu sama saja dengan 30 truk.

“Namun rencana ini, yang akan diwujudkan pada tahun 2013 harus didukung oleh berbagai pihak, selain perusahaan pengeksploitasi batubara juga pemerintah Sumatra Selatan dan pemerintah daerah lainnya,” kata Dani Rusli Utama, General Maneger PT Pelindo II, saat jumpa pers di kantornya, Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Kamis (07/10/2010).

Selain melaksanakan program tersebut, Dani juga mengungkapkan keinginannya buat meningkatkan fungsi pelabuhan Boom Baru.

Menurut dia, selama ini pelabuhan Boom Baru bekerja selama 24 jam. Tapi, perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa pelabuhan yang dibangun tahun 1924 itu tidak bekerja selama 24 jam, sehingga kapal-kapal yang mengangkut barang harus menunggu lebih lama di pelabuhan, sehingga biayanya bertambah sekitar Rp100 juta per hari. “Akibatnya biaya ini dibebankan pada masyarakat melalui harga produk yang diangkut melalui kapal tersebut,” kata Dani.

Jadi, kalau tidak ada penumpukan barang di kapal lantaran perusahaan bekerja 24 jam, maka harga barang akan turun sehingga konsumen diuntungkan. Misalnya pada semen yang sempat mencapai harga Rp50 ribu per sak lantaran adanya penumpukan di kapal. Setelah langsung diangkut ke gudang-gudang milik perusahaan, harga semen turun menjadi Rp47-48 ribu per sak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s