Roadmap industri & cita-cita Bung Karno

Pada masa Bung Karno, kemunculan industri manufaktur modern ditandai dengan berdirinya dua megaproyek industri dasar yakni pabrik Baja Trikora pada 1962-kini bernama PT Krakatau Steel-dan Semen Gresik pada 1953.

Pengerjaan pabrik Baja Trikora dipercayakan kepada para ahli Rusia sedangkan Semen Gresik mulanya dikerjakan oleh Kellogg Amerika Serikat, sebagai pemilik teknologi. Bung Karno saat itu berharap kedua perusahaan itu menjadi pilar pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, cita-cita itu sekarang tampaknya semakin mengawang-awang karena kekayaan alam Nusantara yang melimpah tidak dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyatnya sendiri. Minyak, gas, batu bara, dan hasil bumi justru diangkut untuk kemakmuran bangsa lain dengan cara diekspor.

Pabrik-pabrik yang dibangun di masa Orde Lama itu akhirnya semakin renta dimakan usia sedangkan alih teknologinya tidak pernah berjalan.

Kondisi yang sangat kontras terjadi di Semenanjung Korea. Pohan Iron and Steel Corporation (Posco) dalam tempo tidak lebih dari empat dasawarsa menjadi salah satu pemain baja terbesar di dunia. Padahal, jarak kelahirannya tidak jauh setelah KS didirikan. Sejak krisis ekonomi 1998, pertumbuhan industri manufaktur malah semakin terjerembap. Pada 10 tahun menjelang krisis (1987?1996), sektor manufaktur tumbuh rata-rata 12% per tahun atau 5 poin lebih tinggi dari pertumbuhan PDB saat itu sebesar 6,9%.

Rata-rata peran sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan (1987–1996) (2000–2008) (2004–2008) 2008 2009
PDB 6,9 5,2 5,7 6,1 4,6
Manuafktur–total t/t 4,7 4,8 3,7 t/t
Manufaktur nonmigas 12,0 5,7 5,6 4,0 1,5
Peran terhadap PDB 1,9 1,4 1,4 1,0 0,4

Sumber: Kadin, diolah

Namun, pascakrisis (2000?2008), pertumbuhan sektor ini melambat menjadi rerata 5,6% per tahun. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan rerata pertumbuhan PDB sebesar 5,7% per tahun. Peran industri manufaktur lambat laun makin tergeser oleh sektor jasa.

Ujung-ujungnya, para pebisnis menilai pemerintah cenderung lalai mendorong penguatan struktur industri manufaktur mengingat pascakrisis 1998 pertumbuhan industri terus menurun.

?Sebenarnya industri tetap bisa tumbuh tanpa campur tangan pemerintah. Namun, akselerasinya akan jauh lebih cepat jika pemerintah serius memberi dukungan lewat kebijakan yang proporsional,? kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Iman Sugema.

Sumber pertumbuhan

Meskipun pertumbuhan manufaktur terus menurun, pangsa produk hasil industri dalam total ekspor nonmigas masih sangat dominan. Pada 2008, kontribusi manufaktur terhadap total ekspor nonmigas mencapai 82% atau senilai US$108 miliar. Pada 5 tahun terakhir (2004?2008) ekspor produk industri tumbuh rerata 16,7% per tahun.

Crude palm oil (CPO), tekstil dan garmen, karet olahan, produk kayu, dan alat listrik menjadi kontributor utama (lebih dari 50%) terhadap ekspor produk manufaktur.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga mencatat sepanjang 2004?2008, industri alat angkut, mesin dan peralatan, termasuk di dalamnya industri elektronik dan komponennya mulai mampu menjadi pendorong utama pertumbuhan industri. Sebesar 3,4 poin dari 5,6% pertumbuhan manufaktur bersumber dari sektor-sektor ini.

Kelompok lain yang juga berperan penting dalam mendorong pertumbuhan adalah industri makanan minuman, pupuk, kimia, barang karet, pertekstilan, dan alas kaki. Penurunan ekspor yang terjadi di sektor pertekstilan dan alas kaki diperkirakan segera bangkit kembali sejalan dengan pulihnya ekonomi dunia.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Riset dan Teknologi Rachmat Gobel mengatakan klaster-klaster industri pendorong pertumbuhan tersebut harus diprioritaskan dengan penyusunan berbagai kebijakan yang terencana dan terintegrasi.

?Kita masih berpeluang menjadi negara industri maju dan bangsa niaga yang tangguh jika 10 sektor industri yang masuk dalam klaster industri unggulan diberdayakan optimal. Ini bukan mimpi,? kata Gobel saat pemaparan Roadmap 2015 dan Visi 2030 Industri Nasional, baru-baru ini.

Kesepuluh klaster industri unggulan itu terbagi atas tiga kelompok utama yakni kelompok unggulan pendorong pertumbuhan ekonomi yang terdiri atas industri makanan minuman, pertekstilan dan alas kaki, elektronik dan komponennya, serta alat angkut dan komponennya.

Kelompok unggulan kedua adalah sektor-sektor yang berperan membentuk pendalaman struktur industri seperti industri alat telekomunikasi dan informatika (ICT), industri logam dasar dan mesin serta petrokimia.

Kelompok ketiga adalah sektor unggulan penerima devisa yakni industri pengolahan hasil pertanian, peternakan dan kehutanan. Ada pula sektor industri pengolahan hasil laut dan kemaritiman dan industri berbasis tradisi dan budaya (sektor kreatif).

Lemah

Namun, di tengah semangat menggebu para pelaku industri untuk membangun fondasi industri yang tangguh, sikap para birokrat ternyata dianggap masih sangat lemah dari sisi koordinasi sehingga sering muncul disinkronisasi kebijakan. Keadaan itu diperparah dengan sikap perbankan yang tak berpihak ke sektor riil.

Apabila koordinasi lintas instansi pemerintah yang semrawut tidak segera dibenahi, maka akan semakin banyak kebijakan yang tumpang tindih.

Karena itu, untuk memberi arah kebijakan industri bagi pemerintahan mendatang, Kadin Indonesia tampaknya ‘berbaik hati’ dengan menyiapkan peta jalan (Roadmap) 2015 dan Visi 2030 Industri Nasional.

Roadmap industri tersebut tidak disusun dalam semalam, tetapi telah melalui serangkaian diskusi dan kajian panjang yang melelahkan dengan melibatkan seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) seperti dunia usaha, akademisi, dan pejabat pemerintah.

Roadmap ini selanjutnya akan diserahkan kepada pemerintah, tentu dengan harapan gagasan-gagasan, kepentingan dan keinginan dunia usaha dapat diakomodasi oleh pemerintah.

Pada dasarnya, pemerintah dan dunia usaha ibarat dua sisi koin mata uang sebagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan: setara dan sama penting. Jika kepentingan dunia usaha diabaikan niscaya perekonomian negara tidak akan berkembang. Begitu pula jika ekonomi dan kekayaan negara tidak dikelola secara baik dan benar, maka sektor industri tidak akan bisa menopang pertumbuhan perekonomian negara. Jika itu terjadi, pemerintah dan dunia usaha tentu sama-sama repot.

Jadi, tidak ada alasan bagi pemerintahan mendatang untuk mengabaikan dunia usaha, khususnya sektor riil sehingga cita-cita Bung Karno memiliki industri yang kuat dan disegani dunia dapat terwujud. Semoga! (Chamdan Purwoko) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Wartawan Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia, 17 September 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s