Bayan Jual 10 Juta Ton Batu Bara ke Perusahaan Listrik India

JAKARTA (IFT) – PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten batu bara terbesar kedua dari segi kapitalisasi pasar, memperoleh kontrak penjualan batu bara sebanyak 10 juta ton dari perusahaan listrik India. Kontrak berjangka waktu 10 tahun tersebut berlaku mulai 2014.

Jenny Quantero, Direktur Bayan Resources, mengatakan perseroan mengantongi kontrak penjualan batu bara dari Thermal Powertech Corporation India. Sesuai kontrak, perseroan akan memasok batu bara yang mengandung abu dan belerang rendah ke perusahaan pembangkit asal India itu sebesar satu juta ton per tahun. “Perseroan sudah menandatangani perjanjian jual beli batu bara dengan Thermal Powertech pada 23 Februari 2012,” katanya.

Perseroan belum memiliki patokan harga untuk seluruh kontrak penjualan batu bara. “Untuk harga akan dinego setiap tahun,” ucapnya.

Bayan Resources mengestimasikan produksi tahun lalu mencapai 14,5-15,5 juta ton dengan penjualan sebesar 15-16 juta ton. Harga jual rata-rata di 2011 sebesar US$ 85-US$ 87 per ton. Pada perdagangan Jumat, harga saham Bayan Resources menguat Rp 50 atau 0,3% menjadi Rp 18.100.

Thermal Powertech merupakan perusahaan patungan antara Gayatri Energy Ventures dan Sembcorp Utilities, yang akan membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berkapasitas 1.320 megawatt di Krisnhapatman, Andhra Pradesh, India.

Bersama China, India saat ini menjadi pengimpor batu bara termal terbesar dunia. Hal tersebut dipicu tingginya kebutuhan pembangkit listrik di negara tersebut dalam rangka menopang perekonomian. Seperti dikutip Bloomberg, India tahun ini bahkan diperkirakan menjadi pengimpor batu bara terbesar, mengalahkan China, akibat langkanya pasokan bahan bakar minyak untuk kebutuhan pembangkit.

Manhoman Singh, Perdana Menteri India, menyatakan negaranya tengah mencari pasokan batu bara untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pembangkit baru senilai US$ 36 miliar yang pengoperasiannya terkendala karena masalah pasokan bahan bakar.

Daniel Hynes, Direktur Riset Komoditas di Citigroup Inc Sydney, mengatakan India tahun ini berpotensi mengimpor 118 juta ton batu bara, melebihi China yang diperkirakan hanya mendatangkan 102 juta ton dari luar negeri.

Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi India tumbuh lebih lambat karena melambatnya industri dan pasokan energi. Sebaliknya, China tengah berupaya meningkatkan kapasitas produksi batu baranya, menurut Badan Energi Nasional.

“Pengiriman batu bara ke China akan beralih ke India. Sementara di China tingkat listrik akan menurun sedangkan produksi batu bara naik pesat,” kata Michael Parker, Analis Sanford C Bernstein & Co yang berbasis di Hong Kong.

Ekspor Bumi
PT Bumi Resources Tbk (BUMI), produsen batu bara terbesar, berencana mengalokasikan 17% penjualannya tahun ini ke Jepang. Persentase tersebut setara dengan 14 juta ton, naik dari 2011 sebesar 12 juta ton.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, mengatakan peningkatan ekspor ke Jepang karena negara tersebut saat ini membutuhkan banyak pasokan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik akibat kasus bocornya pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima. Impor batu bara Jepang diperkirakan naik 3% menjadi 104 juta ton, berdasarkan analisis Daiwa Capital Markets. “Kami berusaha untuk melampaui tingkat eskpor ke Jepang di 2010 atau minimal sama,” kata Dileep.

Bumi Resources pada 2010 menjual 12,7 juta ton batu bara ke Jepang atau sekitar 21% dari total volume penjualan perseroan saat itu. Menurut Dileep, harga jual untuk pelanggan di Jepang tahun ini sekitar US$ 110-US$ 120 per ton.

Saat ini perseroan dalam pembicaraan dengan pembeli asal Jepang untuk kesepakatan kontrak yang berakhir pada tahun fiskal Maret 2013. “Kami mengharapkan penyelesaian pembicaraan ini pada kuartal II tahun ini,” tuturnya.

Bumi Resources saat ini telah mengantongi 35 juta ton kontrak penjualan baik untuk pasokan harga tidak tetap maupun sesuai dengan Index Newcastle. Capaian kontrak itu sekitar 46% dari proyeksi penjualan pada akhir tahun ini sebesar 75 juta ton. Pada perdagangan Jumat harga saham Bumi Resources turun Rp 75 atau 3% menjadi Rp 2.425. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s