Ekspor Batu Bara ke China Diperkirakan Tetap Tumbuh

JAKARTA (IFT) – Sejumlah pelaku usaha memperkirakan ekspor batu bara ke China tetap tumbuh, meski negara tersebut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Indonesia juga diyakini bisa mempertahankan statusnya sebagai eksportir batu bara terbesar ke China.

Supriatna Sahala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, mengatakan permintaan China akan tetap tumbuh karena ekonomi negara itu tetap positif. “Logikanya, kalaupun pertumbuhan China hanya di kisaran nol persen, permintaan batu bara di sana akan stagnan. Kalau China memproyeksikan ekonominya tahun ini tumbuh 7,5%, ekspor batu bara ke China diperkirakan bisa tumbuh 10%,” ujarnya, Rabu.

Milawarma, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), perusahaan batu bara milik negara, mengatakan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi China tidak terlalu berpengaruh terhadap penurunan permintaaan, karena secara riil negara itu tetap membutuhkan batu bara. “Selama ini ekspor perseroan ke China sebesar 11% dari total produksi. Setidaknya kami akan jaga porsi tersebut,” katanya.

Menurut dia, pada kuartal IV China selalu membeli batu bara lebih banyak dibandingkan kuartal sebelumnya. Tujuannya untuk memenuhi tingginya kebutuhan batu bara saat perayaan natal dan pergantian tahun China (Imlek). “Biasanya pada akhir tahun harga jual batu bara akan turun, karena China memasok persediaan yang lebih tinggi untuk kebutuhan hingga awal tahun,” ujarnya.

Berdasarkan data kepabeanan China, negara itu sepanjang tahun lalu mengimpor 64,69 juta ton batu bara dari Indonesia senilai US$ 845,42 juta, naik 18,1% dibandingkan 2010 sekitar 54,77 juta ton. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir terbesar ke China. Posisi berikutnya ditempati Australia dengan volume 32,55 juta ton senilai US$ 583,82 juta. Selanjutnya, Vietnam 22,06 juta ton senilai US$ 172,89 juta ton dan Mongolia 20,15 juta ton senilai US$ 230,25 juta ton.

China, negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, baru saja merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya tahun ini menjadi 7,5% dari sebelumnya 8%. Tahun lalu, ekonomi China tumbuh 9,2%, lebih rendah dibandingkan di 2010 yang mencapai 10,4%.

Proyeksi melambatnya pertumbuhan China memunculkan spekulasi akan turunnya permintaan batu bara dari negara tersebut. Beberapa analis bahkan memperkirakan posisi China sebagai pengimpor batu bara terbesar tahun ini akan digantikan oleh India.

“Pengiriman batu bara ke China akan beralih ke India. Sementara di China tingkat listrik akan turun dan produksi batu bara naik pesat,” kata Michael Parker, analis di Sanford C Bernstein & Co yang berbasis di Hong Kong, seperti dikutip Bloomberg.

Daniel Hynes, Direktur Riset Komoditas di Citigroup Inc di Sydney, mengatakan India tahun ini berpotensi mengimpor 118 juta ton batu bara, melebihi China yang diperkirakan hanya mendatangkan 102 juta ton dari luar negeri.

Manhoman Singh, Perdana Menteri India, sebelumnya menyatakan India tengah mencari pasokan batu bara untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pembangkit baru senilai US$ 36 miliar yang pengoperasiannya terkendala pasokan bahan bakar.

Harga Acuan

Harga batu bara acuan (HBA) Indonesia pada Maret meningkat 1,15% menjadi 112,87 per ton dari 111,58 per ton dari 109,29 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini melanjutkan rebound yang terjadi bulan lalu.

Harga acuan itu merupakan harga untuk penjualan spot dalam periode 1-31 Maret 2012 untuk batu bara dengan rata-rata 6.322 kilokalori. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, harga batu bara Indonesia sejak Oktober tahun lalu terus turun dari US$ 119,24 per ton menjadi US$ 109,29 per ton pada Januari 2012 atau turun sekitar 8,3%. Sepanjang tahun lalu, rata-rata harga batu bara acuan mencapai US$ 118,4 per ton. Sedangkan rata-rata harga acuan dalam tiga bulan tahun ini sebesar US$ 111,25 per ton.

Kenaikan harga batu bara acuan sejalan dengan harga delapan produk batu bara termal yang menjadi referensi. Mulai dari yang berkalori rendah (4.200 kilokalori), yaitu Ecocoal yang diproduksi PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hingga batu bara berkualitas 7.000 kilokalori yang diproduksi anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yaitu Gunung Bayan I. Harga batu bara Ecocoal untuk penjualan spot bulan ini tercatat US$ 58,58 per ton, naik 1% dari bulan sebelumnya US$ 57,99 per ton. Harga batu bara Gunung Bayan I naik 1,1% menjadi US$ 121,46 per ton dari bulan lalu US$ 120,06 per ton. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s