Pemerintah Izinkan Perdagangan Spot dan Berjangka Batu Bara

JAKARTA (IFT) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan kesempatan bagi pengusaha batu bara dan otoritas bursa berjangka maupun komoditas untuk menerapkan perdagangan spot maupun berjangka.
Pemerintah saat ini masih dalam tahap pembicaraan untuk menjadikan harga di perdagangan spot dan berjangka menjadi patokan untuk harga batu bara kewajiban memasok dalam negeri (domestic market obligation/DMO).

Thamrin Sihite, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementrian Energi,  mengatakan Kementerian Energi akan melakukan pertemuan sekali lagi dengan PT Bursa Berjangka Jakarta untuk membahas rencana pembukaan pasar spot. “Pada dasarnya, tidak ada masalah apabila Bursa Berjangka Jakarta maupun PT Bursa Komoditi dan Derivatif membuka perdagangan spot dan berjangka, asalkan ada pembeli dan penjualnya,” ujarnya.

Edi Prasodjo, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi, menambahkan penyelenggaraan perdagangan spot batu bara oleh Bursa Berjangka Jakarta tidak serta merta menggantikan patokan harga batu bara domestic market obligation dari harga batu bara acuan dan patokan. Pembicaraan soal penyelenggaraan perdagangan spot batu bara belum final, karena perlu melihat dampak yang lebih besar lagi, seperti pajak dan royalti.

“Jadi meskipun ada, perdagangan spot itu sifatnya B to B, bergantung siapapun yang terlibat di sana. Harga batu bara DMO masih tetap menggunakan harga acuan dan patokan,” ujar Edi.

Bob Kamandanu, Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), mengatakan kendala utama pengembangan pasar spot dan berjangka batu bara adalah sosialisasi. Otoritas bursa, menurut Bob, seharusnya dapat memberikan pemahaman lebih jauh kepada perusahaan batu bara agar pasar spot dan berjangka benar-benar menjadi alternatif.

Karena itu, Bob berharap dengan adanya pemahaman serta keterlibatan dari perusahaan besar, harga yang terbentuk di pasar spot dan berjangka dapat menjadi alternatif dari harga patokan yang ada. “Intinya, pembahasan ini harus terus didorong dan keterlibatan perusahaan besar menjadi penting untuk menjadi buyer maupun seller,” ujar Bob yang juga Direktur Utama PT Delma Mining, perusahaan tambang batu bara termal berbasis di Kalimantan.

Bob menilai penyelenggaraan bursa berjangka batu bara saat ini sangat dibutuhkan, karena masih ada beberapa kelemahan dalam penerapan harga patokan batu bara. Beberapa kelemahan dalam penggunaan harga patokan batu bara antara lain tidak dapat digunakan untuk menutup kontrak jual beli lebih dari 12 bulan.

Penerapan harga patokan batu bara yang berbasis harga spot untuk kontrak 12 bulan ke depan secara tetap (flat) dapat menimbulkan masalah, baik bagi pemerintah, produsen batu bara, maupun konsumen dalam negeri. Hal itu karena dalam situasi tren harga meningkat untuk 12 bulan ke depan, pemerintah dan perusahaan penjual batu bara dapat dipermasalahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, karena pemerintah kehilangan kesempatan (opportunity) akibat potensi hilangnya sebagian royalti dan pajak badan dari yang seharusnya.

“Sebaliknya, ketika harga turun perjanjian jual beli yang bersifat flat untuk 12 bulan, dapat menimbulkan masalah kepada PT PLN (Persero) karena dapat dipertanyakan oleh Dewan mengapa PLN membeli lebih tinggi dari harga spot,” kata Bob.

Asosiasi mengusulkan kontrak jangka panjang sebaiknya menggunakan harga mendatang (future price) yang dihasilkan ataupun dikeluarkan oleh operator perdagangan berjangka. Bob optimistis seluruh anggota Asosiasi akan mendukung adanya perdagangan berjangka batu bara.

PT Bursa Berjangka Jakarta sebelumnya menyatakan akan merealisasikan perdagangan berjangka batu bara setelah peluncuran perdagangan fisik batu bara pada kuartal I 2012. Hal itu ditujukan agar para pelaku pasar memahami perdagangan terorganisasi di bursa sebelum diluncurkan perdagangan berjangka.

Andam Dewi, Kepala Divisi Riset dan Pengembangan Usaha Bursa Berjangka Jakarta, mengatakan telah berkomunikasi dengan Asosiasi sejak Agustus 2005 terkait kemungkinan adanya perdagangan berjangka batu bara setelah ada Indeks Batu Bara Indonesia (Indonesian Coal Index/ICI). Potensi adanya perdagangan berjangka batu bara juga sudah dibahas beberapa kali dengan Kementerian Energi. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s