Batubara Dalam Dilema

Alamsyah Pua Saba
alam@majalahtambang.com

Jakarta-TAMBANG- Pemerintah merencanakan melarang ekspor mineral dan batubara tanpa proses pengolahan atau nilai tambah dimulai pada 2014, sebagaimana amanat Undang-undang pertambangan nomor 4 tahun 2009. Batubara dengan kalori dibawah 5700 kal/gr, tidak boleh lagi dijual ke luar negeri. Mayoritas batubara Indonesia adalah batubara kalori rendah, dibutuhkan teknologi upgrading batubara. Sementara belum ada satupun teknologi upgrading batubara di dunia yang proven secara komersial.

“Selain teknologi yang belum proven secara komersial, teknologi itu masih harus divalidasi,” demikian disampaikan Prof. Irwandy Arif, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) disela workshop upgrading teknologi batubara yang diselenggarakan Perhapi di Jakarta (Selasa, 25/10).

Pernyataan Irwandy itu, terkait dengan rencana pemerintah yang akan menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) tentang nilai tambah dimana didalamnya memuat bahwa batubara dengan kalori dibawah 5700 kal/gr, tidak boleh dieksport.

Semangat dari pemerintah yang ingin agar hasil tambang terutama batubara bisa memberikan manfaat lebih bagi negara, merupakan langkah yang patut diapresiasi, namun melihat kondisi yang terjadi dengan belum adanya teknologi yang proven secara industri, maka pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih bijaksana.

Perhapi, lanjut Irwandy lagi, sejauh ini sudah melakukan setidaknya 5 kali Focus Group Discussion (FGD), sebelum menyelenggarakan workshop. Hasil dari workshop ini, tambhanya akan diajukan kepada pemerintah, sebagai bahan pertimbangan.

“Kesimpulan hasil FGD juga workshop ini, akan kami sampaikan diakhir acara ini (besok), sebagai masukan buat pemerintah,” imbuhnya.

Dari hasil FGD itu juga, tambahnya didapatkan bahwa belum ada satupun teknologi upgrading batubara yang proven, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di dunia. “tetapi yang menarik, ada dua (teknologi upgrading) yang potensial (menjadi komersial),” terangnya.

Dua teknologi tersebut, lanjutnya adalah Upgrading Brown Coal (UBC) yang diusahakan oleh Pendopo Energy dan juga Geocal yang dikembangkan oleh PT Total Sinergy Internasional (TSI). Namun demikian, kedua teknologi tersebut, masih ada hambatan di jumlah produksi dan belum valid secara ekonomi. “terbatas sekali kemampuan produksinya,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, pemerintah harus jeli melihat teknologi yang potensial itu, dengan terus mendorong baik dari sisi kemudahan implementasi teknologi maupun dari sisi perundangan serta juga insentif. Sehingga, teknologi yang mungkin sekarang dalam tahapan laboratorium bisa ditingkatkan menjadi pilot dan kemudian terus meningkat menjadi proven secara komersial.

Selain itu, Irwandy juga sepakat dengan pernyataan Dirjen Mineral dan batubara, Thamrin Sihite yang mengusulkan agar penerapan kebijakan tersebut, tidak dilakukan secara sekaligus dan tiba-tiba tetapi melalui pentahapan.

Lebih lanjut ia mengatakan, selain aspek teknologi yang menjadi kajian dalam beberapa FGD, kajian lain yang juga aspek pasar dari batubara hasil upgrading tersebut. ‘kemana pasar batubara upgrading tersebut, sementara PLN hanya mampu menyerap sekitar 60 hingga 70 juta ton batubara,” ungkapnya.

Ia juga menyayangkan rencana pembatasn eksport batubara. Menurutnya, antara upgrading batubara dan pelarangan eksport, merupakan dua hal yang berbeda. Karena upgrading batubara, terkait pada nilai jual batubara dalam negeri, sehingga memberi manfaat lebih bagi negara ini. Sementara pelarangan ekspor, akan memberi dampak yang bbesar juga bagi negara ini, misalkan dari sisi pendapatan negara.

“Karena itu saya berharap, workshop ini nanti bisa menghasilkan kesimpulan yang memberi manfaat besar bagi implemntasi nilai tambah batubara Indonesia,” pungkasnya. []

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s