Tambang Emas Hitam di Tanah Borneo Untuk Negara

Banjarmasin – Sekitar 200 km dari Banjarmasin dapat ditemui sebuah lubang besar, luasnya hampir 2500 hektar. Itulah tambang batu bara terbesar milik PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang terletak di Kecamatan Tanjung, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nama blok tambang batu bara itu adalah Tutupan.

Dari dua blok tambang lain yang dimiliki PT Adaro Energy, yaitu Paringin dan Wara, Tutupan memberikan kontribusi batu bara terbesar bagi perusahaan tambang ini. Ketebalan batubara di Tutupan umumnya mencapai 10 sampai 50 meter dengan kemiringan lapisan sekitar 45 – 50 derajat.

“Terlihat garis-garis hitam yang miring, itu adalah batu bara. Kalau dihitung-hitung, total batu bara yang ada di sini itu sekitar 125 meter ke dalamannya, jadi meskipun ditimbun tanah, tetap akan berlubang. Lubang tambang tidak akan tertutup seperti semula namun sebagiannya akan difungsikan sesuai kebutuhan. Misalnya untuk wisata air dan lainnya,” ujar Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy, Devindra Ratzarwin dalam kunjungan ke Tambang Tutupan, Tanjung, Banjarmasin, Rabu (8/8/2012).

Tambang ini tidak terpisah jauh dari perumahan warga yang mayoritas bekerja sebagai petani karet. Namun, arus tambang ini memiliki jalur sendiri yang terpisah dari jalan umum milik warga sekitar sehingga tidak mengganggu kehidupan penduduk.

Luas kawasan tambang ini sendiri mencapai 5.000 hektar termasuk beberapa pos untuk menimbun batu bara yang telah dikeruk. Batu bara yang sudah dikeruk dari tambang dimasukkan ke dumptruck untuk diletakkan ke tempat penyimpanan untuk kemudian diambila oleh truk gandeng ke pelabuhan.

Di pelabuhan, pecahan batu bara ini kemudian disamakan ukurannya sekitar 5 cm dengan sebuah alat. Kemudian barulah batu bara tersebut dimasukkan ke kapal tongkang untuk menyeberangi sungai selama hampir 36 jam untuk sampai ke laut. Dari sana, batu bara-batu bara ini disalurkan ke negara-negara pengekspor.

Ciri khas dari batu bara di tambang Tutupan ini adalah batu bara tersebut tidak menghasilkan gas-gas yang berbahaya karena kandungan sulfurnya yang rendah. Inilah yang membuat PT Adaro mengklaim batu bara miliknya itu sebagai “Envirocoal” yaitu batubara ramah lingkungan.

“Kalau terlalu banyak sulfur maka dapat menyebabkan hujan asam, sedangkan kadar sulfur dalam batu bara ini hanya 0,01 persen, sementara yang lain mencapai 4 persen. Selain itu, abunya juga sedikit hanya 2-3 persen. Hal ini berarti sisa pembakarannya tidak banyak,” ujarnya.

Devindra menambahkan untuk mengelola tambang tersebut ditariklah sekitar 70 persen lebih pegawai lokal. Maksudnya, pegawai kelahiran Kalimantan.

“Berdasarkan data Desember 2011, terdapat 20 ribu tenaga kerja di tambang ini. Lebih 70 persennya lokal, jadi kalau ibunya Jawa, bapakny Sumatera, tapi anaknya lahir di Kalimantan, itu bisa dibilang lokal,” ujarnya.

Sementara itu, untuk penduduk sekitar yang bertani karet, perusahaan tambang ini juga turut memberikan bibit unggul karet.

Devindra pun menyatakan PT Adaro telah memenuhi Domestic Market Obligation untuk memenuhi keperluan batu bara dalam negeri yang dipatok sekitar 25-30 persen dalam perjanjian dengan pemerintah.

“Ada yang kita suplai ke PLTU Jawa Bali dan Industri semen serta pulp,” jelasnya.

Perusahaan ini pun juga mengklaim patuh membayar kewajiban berupa pajak dan royalti kepada pemerintah. Berdasarkan data kuartal I tahun ini, kontribusi kepada negara berupa pajak dan royalti sekitar 70 persen dari labanya.

“Ada sekitar 13,5% diberikan kepada pemerintah dalam bentuk royalti dan 45% pajak penghasilan, ini kita berikan kepada pemerintah, katakanlah secara ilustrasi, kami menghitung hampir 70% diberikan kepada pemerintah, kami dan pemegang saham hanya menikmati 30% dari yang dihasilkan,” jelas Presiden Direktur PT Adaro Garibaldi Thohir usai RUPS di Jakarta, beberapa bulan lalu.

Untuk tahun 2011, Garibaldi menyatakan telah memberikan Pajak Penghasilan US$ 450,5 juta dan royalti sebesar US$ 405,4 juta. Totalnya setara Rp 7,7 triliun.

“Secara gambaran besar kami bayar royalti dan pajak dan dana-dana CSR hampir US$ 900 juta dolar pada tahun 2011. Itulah kontribusi kami sebagai perusahaan Indonesia, kami ingin jadi perusahaan terkemuka di mining dan energi,” tandasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s