Saham tambang mulai menggeliat

JAKARTA. Setelah lama berada di zona merah, saham sektor pertambangan mulai bangkit. Sejak mencapai level terendah sepanjang 2015 pada Senin (24/8), indeks saham pertambangan naik ke 893,47 atau naik hampir 5% sejak awal pekan ini.

Pada penutupan Kamis (27/8), indeks saham pertambangan naik 2,96% dibandingkan sehari sebelumnya. Kenaikan ini adalah pertumbuhan tertinggi sejak 2014. Kenaikan saham tambang juga terdorong dari menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 4,55% menjadi 4.430,63.

Pada transaksi kemarin, saham PT Delta Dunia Tbk (DOID) dan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi top gainers di sektor ini, dengan kenaikan masing-masing 12,96% dan 10,12%. Dua saham tambang, yakni PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) masuk dalam 10 besar penggerak IHSG sepanjang tahun ini.

Namun, seiring pergerakan IHSG, saham tambang sepanjang tahun ini masih mencetak return negatif 34,74%. Sementara IHSG memberi return negatif 15,23%.

Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan, kenaikan saham tambang kali ini bukan menjadi tanda jika saham sektor ini terus tumbuh sampai akhir tahun. Maklumlah, saham sektor ini masih diliputi ketidakpastian harga komoditas.

William menduga, kenaikan saham tambang lebih disebabkan karena aksi beli saham oleh investor domestik. Apalagi, saham tambang sudah terdiskon banyak. Momentum ini dimanfaatkan trader untuk mengambil untung jangka pendek.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities juga menilai, saham tambang memang terlihat dalam tren technical rebound. “Dari sisi volume memang ada peningkatan. Padahal sejak tahun lalu, saham ini banyak dihindari,” ujar dia.

Terdorong dollar AS

Secara fundamental, pasar melihat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) belum akan mengerek suku bunga acuan. Sehingga, harga komoditas kemungkinan mencoba bergerak positif. Dari sisi permintaan, sektor batubara maupun migas masih sepi. William menduga, beberapa saham pertambangan banyak mendapatkan dorongan dari penguatan nilai tukar dollar AS. Terlebih, harga minyak mentah sempat naik meski belum terlalu signifikan.

“Meskipun ada kenaikan sedikit, hal itu menjadi angin segar untuk sektor ini,” imbuh dia. Kinerja saham pertambangan sampai akhir tahun ini masih belum bisa diprediksi karena banyaknya tantangan di pasar global. Namun, beberapa emiten yang sudah melakukan diversifikasi bisnis di luar sektor batubara dan migas kemungkinan akan kembali diincar oleh para pemodal asing.

Reza masih belum merekomendasikan saham pertambangan untuk dikoleksi dalam jangka panjang. Namun, saham ini cukup menarik untuk trading jangka pendek. Apalagi, harganya sudah banyak yang terdiskon. Dia merekomendasikan trading buy untuk saham ITMG, PTBA, dan INCO. Sementara William merekomendasikan UNTR dan PTBA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s