Opini: Mengolah Sampah Menghalau Malapetaka

Moneter.co.id – Kepulan asap, sekumpulan anjing liar mengais-ngais, bau bangkai binatang menyengat dan ceceran sampah di musim hujan, adalah gugusan permasalahan yang tiada henti mengusik kehidupan penduduk yang tinggal tak jauh dari tempat pembuangan akhir (TPA) di jurang Desa Pikat.

Setiap hari, melewati bulan hingga puluhan tahun berlalu, warga menjadi terusik dan merasakan ketidaknyamanan hidup tanpa ada gambaran pasti kapan permasalahan sampah itu akan berakhir.

“Gara-gara asap yang sering mengepul dari TPA, menyebabkan hasil panen buah kelapa turun drastis. Biasanya saya bisa memanen kelapa sampai 600 buah per tiga bulan. Sejak TPA sering terbakar dan mengepulkan asap, saya cuma bisa memanen 50 butir kelapa saja,” ujar Kadek Sudana, warga Dusun Sente, Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, yang tinggal tak jauh dari lokasi TPA.

Merosotnya hasil panen, jelas memukul telak kehidupan Kadek Sudana karena berimbas pada minimnya pendapatan keluarga dari hasil berkebun kelapa.

“Bahkan tak hanya kelapa, pohon pisang juga sering kena virus dan mati karena keberadaan TPA itu. Tetangga lain tak terhitung sudah yang mengeluh karena bau dari tempat sampah itu. Belum lagi jika musim hujan. Sampah berceceran hingga ke jalan raya. Ini sangat mengganggu warga yang rumahnya berdekatan TPA itu,” kata Kadek Sudana, mengungkapkan kegundahan.

Ungkapan Kadek Sudana, hanya segelintir dari sekian banyak lagi keluhan dari ratusan warga yang tinggal tak jauh dari TPA. Sering kali warga terganggu jika TPA itu mendadak terbakar dan mengeluarkan asap tak kunjung henti, sehingga mengganggu pernafasan. Udara menjadi pengap dan menyesakkan. Keluhan demi keluhan ini memuarakan tuntutan, TPA harus ditutup agar warga dapat terbebas dari beragam problematika sampah.

Mediasi Silih berganti keluhan atas sampah yang tak kunjung henti, membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh Desa Pikat untuk mendengar langsung poin-poin keberatan warga. Keluh dan kesah masyarakat pun tercurah, betapa sampah mendatangkan malapetaka tak henti-henti: bau busuk, kekhawatiran sebaran bakteri dan asap yang nyaris tak kunjung terhenti dikarenakan TPA sering terbakar sendiri.

Pemkab Klungkung kemudian menyanggupi untuk memberikan kompensasi atas kerugian atas keberadaan TPA, yang lebih dari 20 tahun ditanggung warga setempat, serta menyatakan tak pernah tinggal diam menghadapi permasalahan sampah di TPA Sente – Pikat.

Sikap konkrit Pemkab Klungkung mencari solusi atas permasalahan, ditunjukkan dengan melakukan pembelajaran tentang pengolahan sampah terpadu di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Didampingi Kepala DKP Klungkung AA Ngurah Kirana, lurah dan instansi terkait, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengunjungi TPA di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Malang, sebagai langkah studi banding.

“Tujuannya agar memahami dan mengerti cara pengolahan sampah di Malang, agar bisa diterapkan di wilayah Klungkung,” ujar Bupati Suwirta.

TPA Talangagung seluas 2,5 hektare merupakan tempat wisata edukasi yang mengembangkan beragam inovasi. Seperti pembuatan kompos, penangkapan dan pemanfaatan gas metan dan biogas sampah. Masyarakat setempat menjadi terbantu dengan keberadaan TPA Talangagung. Khususnya karena masyarakat mendapatkan penyaluran gas metan gratis, untuk pengganti gas elpiji guna keperluan memasak.

Perjalanan studi banding, kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi pengolahan sampah pada dua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), yang dinilai berhasil mengatasi problema sampah. Masing-masing di TPST Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, dan TPST Desa Mulyo Agung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, yang menerapkan sistem 3 R, yakni “reduce, reuse dan recycle”.

Gas Metan Usai studi banding, langkah berbenah segera dilakukan Pemkab Klungkung dengan melakukan penelitian secara intens mengenai potensi gas metan di kawasan TPA Dusun Sente.

“Survei dan penelitian gas metan di TPA Sente sudah berlangsung sejak delapan bulan lalu, dan kini sudah siap dimanfaatkan secara gratis oleh masyarakat untuk memasak. Bahkan sebelum studi banding ke Malang, penelitian terhadap gas metan di TPA Sente sudah dilakukan,” ujar Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Anak Agung Kirana.

Sebelumnya, lanjut dia, TPA itu merupakan jurang yang digunakan sebagai tempat sampah, dan sering ada keluhan soal bau dari masyarakat. Keluhan lain adalah karena seringnya terjadi kebakaran, sehingga asapnya mengganggu kehidupan warga di sekitar TPA.

Keluhan warga ini akhirnya dikaji dan diteliti, terkait seringnya terjadi kebakaran, yang dikarenakan tingginya gas metan di lokasi TPA Sente.

Ke depan, katanya, ditargetkan pemanfaatan gas metan itu bisa digunakan setidaknya 100 kepala keluarga (KK) yang tinggal berdekatan dengan TPA. Menurut dia, mulai bulan Februari lalu TPA Sente telah ditata dengan langkah penghijauan. Lokasi itu selanjutnya akan diformat menjadi TPA Edukasi yang ramah lingkungan.

“Rencana ke depan nanti di atas TPA akan ditanami rumput-rumput hijau dan pepohonan. Dan untuk membuang sampah nanti akan diarahkan ke arah samping TPA, tepatnya di sisi sebelah utara. Realisasi kegiatan setelah dilakukan uji coba penggunaan gas metan ini,” kata Agung Kirana.

Pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan Klungkung sudah melakukan koordinasi dengan Perbekel Pikat dan Kepala Dusun Sente, terkait dengan penyaluran gas metan.

“Tanggapan masyarakat pun sangat menyambut baik dengan sejumlah perbaikan TPA dan sisi positif yang telah dirasakan dengan penyaluran gas metan,” ucap dia.

Keberadaan gas metan dan penataan kawasan pinggiran jurang Pikat, telah menaburkan harapan bagi masyarakat setempat. Kini sering kali terlihat wajah penduduk desa yang terlihat berseri-seri, menyaksikan gunungan sampah yang memenuhi jurang. Tak nampak ekspresi menutup hidung, jijik atau risih. Penduduk justru datang mendekati sisi jurang, untuk turut menyaksikan penangkapan gas metan sebagai sumber energi, yang diproyeksikan untuk menopang kehidupan masyarakat.

*) Tri Vivi Suryadi, Penulis buku dan artikel, tinggal di Bali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s