Jangan Biarkan Inpex Tunda Lagi Proyek Masela

GATRAnews – Pro-kontra proyek pengembangan blok Masela yang mengharu-biru tanah air selama berbulan-bulan mestinya sudah berakhir. Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan pengembangan Masela dilakukan di darat atau onshore. Namun, apakah dengan demikian masalah sudah selesai dan harapan Presiden segera terwujud, yaitu Gas di bawah laut Masela segera dapat diproduksi agar memberi kebaikan sebanyak-banyaknya buat masyarakat? Saya meragukannya.

 

Perkiraan saya, Inpex akan menunda-nuda lagi pengembangan proyek tersebut, dan baru melakukan Final Investment Decision (FID) pada 2023 sehingga produksi gas baru akan dirasakan manfaatnya pada 2028.

 

Oleh karena itu pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah atau berbagai upaya supaya hal tersebut tidak terjadi.

 

Apa alasan saya sampai pada kesimpulan Inpex malas-malasan untuk memulai proyek Masela ini? Mari kita lihat beberapa catatan berikut ini:

1) Pro kontra sejak 2015 soal Masela ini merupakan tayangan ulang peristiwa 2009/2010. Nyaris serupa, soal offshore dan onshore, karena itu bukan mustahil kalau keriuhan ini memang ada skenario tertentu.

 

2) Kajian kedua konsultan yang ditunjuk dalam waktu yang berbeda mempunyai rekomendasi sama, yaitu yang terbaik adalah  FLNG bukan LNG yg di produksikan di darat. Hanya pada tahun 2009, Inpex sempat mengusulkan pembangunan di darat dengan mengirim gas Masela ini ke Darwin, Australia. Tentu saja usulan itu akhirnya ditolak Pemerintah.

 

3) Pada kedua pembahasan pro kontra tersebut, Inpex tidak atau belum melakukan kegiatan pemasaran LNG. Padahal, semua orang tahu bahwa proyek LNG dengan nilai sangat fantastis tesebut, (15 hingga 20 Milyar dollar), mustahil dibangun kalau belum ada pembelinya.

 

4) Pasar LNG Jepang saat ini sedang dalam kondisi “over supply” hingga tahun 2028.

 

5) Saham Inpex sebesar 50 persen adalah milik Pemerintah Jepang, sehingga bukan tidak mungkin Gas Masela ini merupakan porto folio Inpex dan bangsa Jepang.

 

6) Inpex juga merupakan operator proyek LNG Ichtys di Australia yang letaknya berhadapaan dengan lapangan Masela. Tentulah Inpex tidak akan merelakan kedua proyek mereka ini saling bersaing untuk memasuki pasar Jepang.

 

Sayang sekali, Inpex justru memprioiritaskan Ichtys daripada Masela. Terbukti bahwa proyek Ichtys sudah mulai dibangun dan rencananya akan memasok LNG ke Jepang pada tahun 2023. Tahun di mana seharusnya gas Masela sudah harus diproduksi.

 

Mencermati hal-hal tersebut, maka menurut hemat saya, bukanlah tidak mungkin segala macam keruwetan pro kontra ini memang disengaja agar produksi gas Masela tertunda dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan pasar di Jepang, yang baru membutuhkan tambahan pasokan LNG paska tahun 2028.

 

Karena itu menarik kita cermati time frame yang segera akan disiapkan oleh Inpex terkait rencana produksi gas Masela melalui pipa dan dicairkan menjadi LNG dan mungkin beberapa industri yang menggunakan bahan baku gas di darat ini.

 

Secara teoritis, dangan mempertimbangkan hal-hal teknis seperti proses pre FEED (Front-End Engineering Design), FEED, tender EPC (engineering, procurement, construction), FID, dan EPC, maka FID dapat dilakukan paling lambat tahun 2018. Dengan masa EPC 48 bulan, maka berarti LNG sudah dapat diproduksi mulai tahun 2022.

 

Namun demikian, sayang sekali, nampaknya bukan ini yang akan terjadi. Menurut hemat saya, perkiraan FID baru akan dilakukan pada tahun 2023 dengan target produksi pada tahun 2028 atau setelah itu.

 

Saat ini, isu yang masih bisa dipakai lagi oleh Inpex untuk mengganjal eksekusi proyek LNG Masela adalah isu perpanjangan PSC-nya (Production Sharing Contract) yang akan berakhir pada tahun 2028.

 

Lokasi Blok Masela (Dok Majalah GATRA)
Lokasi Blok Masela (Dok Majalah GATRA)

Oleh karena itu, agar tidak lagi terunda-tunda, alangkah baiknya Pemerintah dapat melakukan supervisi pada Inpex agar mereka dapat melakukan FID paling lambat tahun 2018.

 

Ini dengan mempertimbangkan kebutuhan gas domestik di Indonesia saat ini yang meningkat tajam seiring dengan pembangunan infrastruktur gas.

 

Pembeli LNG domestik yang paling kredibel adalah Pertamina, maka hendaknya Pertamina diperintahkan untuk dapat menyerap produksi LNG tersebut. Dengan adanya kepastian pembeli, maka Inpex tidak lagi punya alasan untuk menunda-nunda.

 

Tentunya Pertamina akan menyambut baik ide ini, apalagi kalau Pertamina juga diberikan fleksibilitas berupa Indonesian Participation dan/atau Perticipating Interest, misalnya sebesar 10%.

 

Dengan Pertamina memiliki saham 10%, maka ada wakil dari Pemerintah yang  turut mengamati pengambilan keputusan dari dalam konsorsium Inpex dan Shell. Sehingga  strategi penundaan seperti yang sekarang terjadi ini dapat dihindari.


Hari Karyuliarto, Mantan Direktur Gas Pertamina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s