Gerakan Potong 10 Persen

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong agar konservasi energi bisa ditempatkan sebagai sumber energi kelima setelah minyak, gas, batubara dan energi terbarukan. Pasalnya, konservasi energi yang dilakukan melalui penghematan 10% dari pemakaian energi bisa menyamai pembangunan pembangkit listrik baru dalam tiga tahun ke depan.
Pertumbuhan konsumsi energi yang terus meningkat disertai dengan penurunan jumlah cadangan energi fosil, menuntut kesadaran segenap pihak pengguna energi untuk melakukan penghematan. Pemerintah, melalui Kementerian ESDM, telah mencanangkan Gerakan Konservasi Energi “Potong 10%” setahun lalu. Gerakan ini bertujuan untuk mendorong kesadaran mengenai efisiensi dan tanggung jawab dalam hal pemanfaatan energi.
“Penghematan yang dilakukan sebanyak 10 persen hingga tiga tahun ke depan sama dengan menghemat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru,” ujar Menteri ESDM, Sudirman Said, saat menyampaikan penjelasan mengenai “Program Konservasi Energi: Potong 10%”, Rabu (27/4).
Menurut Sudirman, konservasi energi harus ditempatkan sebagai sumber energi kelima setelah minyak, gas, batubara, dan energi terbarukan. Menghemat 10% lebih mudah dilakukan ketimbang membangun sumber energi baru sebesar 10% atau setara 3,5 Gigawatt (Gw) yang membutuhkan dana sekitar Rp 43 triliun.
“Konsumsi energi nasional terbesar saat ini berada pada kelompok pelanggan rumah tangga, industri, dan bisnis. Oleh karena itu, Gerakan Potong 10 Persen akan fokus pada sektor-sektor tersebut,” paparnya.
Pada tahap ini, program akan dilaksanakan di provinsi dengan tingkat konsumsi energi tinggi, atau di atas 87 persen total konsumsi nasional, seperti di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan. Penghematan sebesar 10 persen yang dilakukan di provinsi tersebut dapat melistriki sekitar 2,5 juta kepala keluarga di seluruh desa dalam Program Indonesia Terang (setara 10 juta jiwa akan mendapatkan akses listrik).
Dalam kesempatan itu, Menteri ESDM menegaskan bahwa hemat energi seharusnya dijadikan sebagai gaya hidup sehari-hari. Contoh yang mudah, misalnya, dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik yang sedang tidak dipakai, atau mencabut outlet listrik.
“Ilustrasinya begini, dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik di rumah anda selama satu jam per hari akan menghemat konsumsi listrik setara 600 Wh. Penghematan tersebut setara dengan pemberian akses listrik kepada satu rumah tangga di daerah terpencil,” jelas Menteri.
Secara resmi, Menteri ESDM akan mengajak publik bergabung dalam Gerakan Potong 10 Persen pada Minggu pagi, 15 Mei 2016, bersamaan dengan kegiatan Car Free Day di Jakarta. Dimulai dari Kantor Kementerian ESDM di Medan Merdeka Selatan, Menteri ESDM akan berjalan kaki menuju Bundaran Air Mancur Hotel Indonesia bersama dengan jajarannya dan masyarakat umum mengkampanyekan penghematan energi.
Beberapa panduan praktis gaya hidup hemat energi untuk mensukseskan Gerakan Konservasi “Potong 10%” adalah:
1. mematikan lampu saat keluar ruangan,
2. mematikan televisi saat tidak digunakan,
3. mencetak kertas secara bolak-balik,
4. mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan,
5. menutup kulkas dengan rapat,
6. mematikan pendingin ruangan saat ruangan tidak digunakan,
7. mengatur pendingin ruangan pada suhu 24 derajat,
8. menggunakan lampu hemat listrik/LED. (Son)

Sumber Berita: http://www.swarakalibata.com


http://petrominer.co.id/berita-gerakan-potong-10-persen-.html#ixzz47BVqqwnn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s