Di Balik Bencana Sibolangit

Oleh: Firman Situmeang.

Pada akhir pekan lalu tepatnya 15 Mei 2016 sebuah Tragedi Banjir Bandang terjadi di Objek Wisata Air Terjun Dua Warna, Desa Du­rin Sirugun, Kecamatan Sibolangit, Kabu­paten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Tercatat 22 Mahasiswa menjadi korban dari bencana yang tak diduga-duga tersebut yang terdiri dari 20 orang mahasiswa dan 2 orang pemandu wisata. Berdasarkan informasi ter­baru yang dihimpun tim SAR dari 22 korban, 17 diantaranya sudah ditemukan dan telah teridentifikasi (Tribunnews/ 20/5/2016).

Terjadinya banjir bandang di Air Terjun Dua Warna yang notabene merupakan salah satu objek wisata di Sumatera Utara (Sumut) tentunya menjadi sebuah tragedi yang sangat menohok dan menjadi tamparan keras bagi masyarakat dan pemerintah yang sudah lalai dalam menjaga eksistensi objek wisata yang notabene menjadi sumber penghasilan masyarakat dan sumber pendapatan daerah. Tragedi ini juga menjadi teguran keras bagi kita untuk segera berbenah.

Ilegal Logging dan Deforestasi

Tiada asap bila tiada api. Begitu pula dengan banjir bandang di Sibolangit terjadi bukanlah tanpa alasan ataupun penyebab. Menurut Walhi, ilegal logging dan deforestasi menjadi penyebab utama dari terjadinya banjir bandang di Sibo­langit. Dugaan ini di­­kuatkan dengan ditemukannya potongan kayu dan sampah ketika banjir bandang ter­jadi. Potongan kayu tersebut mengindi­kasi­kan telah terjadi ilegal logging di daerah hulu.

Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, Kusnadi, menyatakan perusakan hutan di hulu Lau Betimus, yakni di Gunung Sibayak di Kabupaten Karo, sangat masif. Kawasan hutan lindung Sibayak berubah fungsi menjadi kebun sawit dan karet. Pelakunya perorangan dan beberapa perusahaan lokal.(Tempo/17/5/2016). Terjadinya ilegal logging di kawasan objek wisata tentunya sangat disesalkan oleh berbagai pihak. Kondisi tersebut juga menjadi sebuah bentuk pengingkaran dari pemerintah Sumut yang sebelumnya telah berkomitmen untuk memajukan pariwisata di Sumut.

Ilegal logging dan deforestasi bukanlah isu baru di Sumut. Bahkan isu ini sudah muncul berpuluh tahun yang lalu. Namun sayangnya seperti yang kita lihat hari ini, isu ini belum disikapi dengan serius bahkan diabaikan oleh pemerintah.

Bukanlah rahasia umum bila kepala daerah di Sumut mulai dari yang terendah (kepala desa) hingga yang tertinggi (gubernur) selalu kalah dengan para penggemplang hutan baik yang berskala besar maupun kecil, perse­orangan maupun kelompok. Kalah disini bukan berarti para kepala daerah tidak ber­daya menghadapi para penggemplang hutan namun kalah disini maksudnya para kepala daerah di Sumut selama ini begitu mudah dilobi dan dibeli oleh para penggemplang hutan. Bahkan di beberapa lokasi praktek pe­ngrusakan hutan malah dilakukan oleh para pejabat di wilayah Sumut.

Para pejabat Sumut saat ini masih menganut uangsentris dengan slogan ada uang ada barang. Tidaklah mengherankan bila Sumut menjadi Provinsi terkorup di Indonesia.

Buruknya Pengelolaan Objek Wisata

Terjadinya banjir bandang di kawasan objek wisata Air Terjun Dua Warna akibat ke­ru­­sakan hutan menjadi pukulan yang kesekian kali bagi pemerintah dalam me­nge­lola objek wisata yang ada. Jauh hari sebe­lumnya objek wisata yang menjadi kebang­gaan masyarakat Sumut yaitu Danau Toba mengalami nasib yang tidak jauh berbeda.

Rusaknya hutan Tele yang menjadi pe­nyanggah Danau Toba akibat ilegal logging telah menyebabkan pencemaran dan kerusa­kan di sekitar Danau Toba. Danau Toba pun kini mulai ditinggalkan oleh para wisatawan. Kondisi tersebut pun memaksa pemerintah pusat meng­ambil alih pengelolaan Danau Toba dan kini mulai menata ulang objek wisata Danau Toba.

Terulangnya kasus pencemaran yang terjadi di kawasan objek wisata menjadi bukti konkrit kegagalan pemerintah Sumut dalam mengelola objek wisatanya yang notabene menjadi pemikat para wisatawan maupun investor untuk datang ke Sumut.

Dalam implementasinya pemerintah Su­mut hanya berfokus pada keuntungan se­mata tanpa berupaya untuk menjaga keles­tarian dan keberlanjutan objek wisata yang ada. Akibatnya satu per satu objek wisata di Sumut mengalami pencemaran yang diikuti dengan kerusakan yang berakibat pada hi­lang­nya eksistensi objek wisata tersebut. Pemerintah Sumut terkesan berorientasi pada prospek jangka pendek dibandingkan dengan prospek jangka panjang yang sebenarnya jauh lebih menguntungkan.

Buruknya pengelolaan pariwisata Sumut sangat kontradiktif bila kita membandingkan dengan daerah lain yang dengan begitu gencar memoles objek wisatanya demi menarik per­hatian dunia. Lihat saja Bali yang kian hari melakukan berbagai inovasi untuk memaksa perhatian wisatawan dunia mengarah ke Bali.

Intropeksi Diri

Tragedi banjir bandang di Sibolangit harus menjadi pelajaran sekaligus teguran bagi pemerintah maupun masyarakat dalam komitmennya untuk menjaga kelestarian hutan umumnya dan objek wisata khususnya.

Sudah terlalu lama masyarakat dan pemerintah tertidur dan menutup mata akan pentingnya kelestarian alam khususnya hutan yang menjadi jantung sekaligus paru-paru dunia. Sudah saatnya masyarakat Sumut tanpa terkecuali intropeksi diri dan menyadari bahwa alam adalah kita dan kita adalah alam.

Teruntuk pemerintah, penulis berharap kepala daerah mulai yang terendah hingga yang tertinggi harus berpegangan tangan dan menyatukan tekad untuk menjamin dan menjaga kelestarian alam Sumut.

Semua elemen pemerintahan harus berani menindak tegas semua pihak yang terindikasi menyebabkan kerusakan terhadap alam Sumut. Sikap pemerintah yang selama ini sangat permisif terhadap praktek pengrusakan hutan harus segera diakhiri. Pemerintah harus membuat aturan seketat mungkin yang disertai sanksi yang tegas untuk menjamin hutan Sumut terlindungi.

Semua instansi pemerintahan tanpa ter­kecuali harus membangun sebuah sinergisitas untuk menangkal peng­rusakan hutan yang kian hari semakin intens terjadi. Harus disadari bahwa menjamin kelestarian alam (hutan) Sumut adalah tanggung jawab semua pihak. Karena hutan bukan hanya berbicara lingkungan semata namun juga berbicara tentang sosial-ekonomi masyarakat.

Jangan lagi terdengar adanya saling me­nyalahkan dan lempar tanggung jawab dian­tara para instansi pemerintahan seperti yang terjadi pasca Tragedi Banjir Bandang Sibo­langit terjadi dimana Kepala Balai Penga­manan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera Halasan Tulus menya­takan penindakan ilegal logging adalah tanggung jawab Dinas Kehu­tanan Pemprov Sumut.

Teruntuk masyarakat, penulis berharap masyarakat harus sadar betul bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh eksis­tensi oleh alam itu sendiri. Jika alam rusak maka berakhirnya eksistensi manusia tinggal menunggu waktu saja. Adalah benar bila Tuhan memerintahkan manusia untuk mengelola alam untuk kepentingan manusia, namun bukan berarti manu­sia bisa seenaknya mem­berangus alam tanpa memperdulikan kelestarian alam. Bukankah Tuhan memerintahkan manusia untuk menjaga dan hidup berdampingan dengan alam ?

Terkhusus objek wisata di Sumut, penulis berharap masya­rakat harus menyadari bahwa pariwisata sangat penting bagi Sumut. Pariwisata bukan sekedar media rekreasi semata na­mun juga penopang sosial-ekonomi bagi banyak masya­rakat. Artinya masyarakat Sumut bukan hanya punya tanggung jawab moral namun juga tanggung jawab sosial-ekonomi dalam menjaga eksistensi objek wisata yang ada. Jangan lagi praktek mencemari objek wisata semisal mem­buang sampah sembarangan terulang kedepannya. Bukankah selama ini kita selalu membangga-banggakan objek wisata yang kita pu­nya ? Jadi, mari kita jaga objek wisata kita.

Terakhir penulis juga berharap sosi­alisasi sejak dini tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dilakukan ditengah masyarakat khususnya dalam keluarga. Hal ini perlu dilakukan karena untuk menumbuhkahkan sebuah kepe­dulian terhadap alam bukanlah sebuah proses yang instan melainkan membu­tuhkan proses yang berkelanjutan.

Dengan ajaran peduli alam sejak dini maka harapan untuk terciptanya generasi yang peduli terhadap alam bukan sekedar angan-angan ataupun mimpi belaka namun bisa menjadi kenyataan. Seperti pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” maka mari kita kenalkan anak-anak kita kepada alam sehingga anak-anak kita bisa mennya­yangi alam kita.

Semoga.****

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi USU.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s